Sunday, November 12, 2006

Benarkah Sudah Saling "Memaafkan?"

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar...

Gema takbir masih berkumandang, sholat Id sudah selesai. Satu sama lain saling bersalaman untuk saling memaafkan (meskipun belum saling kenal). Lalu, pulang ke rumah masing-masing untuk menyantap ketupat. Sesampai di rumah ada beberapa yang melakukan kegiatan sesuai dengan tradisi mereka; anak sembah sujud pada orang tua sambil mencucurkan air mata, beberapa cuma saling bersalaman, sanak saudara berkunjung, saling berpelukan dan bermaafan, dan sebagainya.

Tapi, sudah benarkah yang mereka lakukan? Ataukah cuma sekedar melakukan tradisi sebagai momentum setiap tahunnya? Kenapa cuma di hari raya idul fitri mereka melakukannya? Apakah mereka sudah memaafkan dengan tulus ikhlas? Masih banyak pertanyaan yang ada di benak saya sebagai penulis.

Kalau memang benar saling memaafkan itu bisa diwakili dengan saling bersalaman dan berpelukan, bagaimana dengan dosa para petinggi kita yang sudah menyengsarakan rakyat? Kasihan sekali mereka karena tidak akan bisa dimaafkan dan meminta maaf. Mereka tidak bisa bersalaman dan berpelukan dengan semua rakyat.

Dihari yang fitri seharusnya saling memaafkan, ada orang tua yang tidak menerima kedatangan anaknya karena tidak memberi uang yang banyak dan menganggap sebagai anak yang tidak berbakti. Padahal si anak pulang dari rantau dengan niat tulus ikhlas untuk meminta maaf karena belum bisa memberi apa-apa. Dia pulang dengan ongkos yang telah dia dapatkan dengan susah payah selama 1 tahun kerja sebagai tanda bakti pada orang tuanya.

Ada juga anak yang mengusir orang tuanya sendiri yang datang ke jakarta untuk menjenguknya karena sekian tahun tidak pulang ke rumah dan ingin ketemu sama cucunya. Namun si anak menganggap kedatangan orang tuanya hanya menyusahkan kehidupannya saja.

Ada beberapa orang yang tidak suka berkunjung ke rumah saudaranya. Mereka beranggapan hanya buang ongkos saja. Dengan alasan kemajuan teknologi semua bisa diwakili dengan sms. Tapi, yang terjadi mereka lebih memilih pergi tamasya daripada berkunjung ke rumah sanak famili.

Bagaimana dengan para petinggi kita?

Apakah kita akan memaafkan dosa-dosa mereka yang telah menyalahgunakan wewenang yang mereka miliki? Sepertinya tidak mungkin, apalagi mereka yang bukan dari golongannya dan tidak menguntungkan bagi golongan itu. Negara demokrasi, mereka dipilih oleh rakyat, namun juga dihujat oleh rakyat. Mereka lebih banyak mendapat hujatan daripada dukungan. Memang sangat sulit untuk bisa memaafkan orang yang sudah melakukan kesalahan besar apalagi merugikan kita.

Alangkah indahnya kalau hukum di negeri ini bisa berjalan semestinya, para petinggi tidak menyalahi kepercayaan yang diberikan oleh rakyat, orang-orang tidak meraup keuntungan untuk diri mereka sendiri, dan mengerti akan hak dan kewajiban masing-masing.

Mari saling memaafkan dan memulai semuanya dari awal dengan penuh kesucian hati dan menjaga kepercayaan yang telah menjadi hak dan kewajiban masing-masing.




Friday, November 10, 2006

Rindu Air Mata

Takbir bergema...
Kutahan air mata
Meski raga layu dan merapuh
Tekadku tetap menghadang badai

Sekian lama jiwaku pekat
terpenuhi segala kedustaan dan kebencian
selalu kututup rongga yang terbuka
kemunafikan di otakku
selalu benci dan benci

Bulan dan bintang mengiringiku
menghantarkan air mata
dengan segala ketakutan dan kekhilafan
membencimu, membenci kalian

Satu titik telah menetes
nafasku semakin tersekat
waktu terus mempermainkanku
mengujiku hingga aku bosan dan memaki

Kenapa aku?
kenapa aku yang harus membenci mereka?
kenapa bukan mereka yang membenciku?
Sejuta kebencianku dibalas dengan kasih sayang
ketulusan menanti penyesalan dariku
raga penuh kebencian

Mama, Papa
mencintaimu lebih dari sekadar kata-kata indah
air mataku hanya untuk kalian
sejuta penyesalan aku bawa yang pasti kalian terima
ketulusan dan keikhlasanmu akan kubalas
bersimpuh di kaki hingga seribu tahun

Mama, Papa
maafkan aku....
basuh aku dengan kasih sayangmu
air mataku hanya untuk kalian




Thursday, November 09, 2006

Mama maafkan aku


5 hari lagi perayaan hari raya idul fitri, aku masih di Semarang. Aku masih belum ingin beranjak dari kota ini untuk pergi ke Jakarta menemui orang tua dan adik-adikku. Pekerjaan masih menggelayutiku, besok baru libur. Ana, gadis cantik setia menemaniku dengan senyum manis yang selalu terukir dari lesung pipinya. Dia calon istriku kelak.
Lagi, ponselku berbunyi. Sebuah sms masuk dari Ria, adikku. "Mas, kapan balik ke jakarta? Mama sudah kangen. Kalau kerjanya sudah libur, mending balik ke jakarta biar bisa puasa bareng di sini". Aku tidak membalas sms tersebut, malas untuk sekedar menjentikkan jari mengetik beberapa kalimat. Kupencet beberapa nomer, "Hallo, Assalamu'alaikum. Ma, Aku belum bisa balik ke Jakarta. Kerja belum libur. Mungkin aku balik malam lebaran. Salam kangen buat semua." Yang pasti ibuku kecewa tidak bisa menjalani puasa bersama semua anaknya. Tapi aku masih tetap belum ingin ke Jakarta, bakan aku berpikiran lebih baik tidak merayakan lebaran bersama orang tuaku setelah mengingat apa yang telah mereka lakukan padaku sewaktu kecil dulu. Setelah semua pekerjaan aku selesaikan, aku bergegas pulang ke kos bersama pacarku. Rencananya dia akan menginap di kosku.
Aku bersama pacarku di kamar kos. Setelah sekian hari aku kerja dan lembur, badan serasa capek. Aku berniat untuk istirahat total malam itu. Tengah malam badanku terasa panas dan sangat panas. Mungkin ini cuma demam. Tampak air keluar dari mata lentik Ana, dia menangis. Dia bergegas menelpon dokter dan setelah beberapa menit dokterpun datang. Dengan segera dokter itu memeriksaku. Aku terkena gejala tipes.
Air mata masih menitik dipipi pacarku, Ana.
"Kenapa kamu menangis?" tanyaku heran.
"Aku ga papa kok, Mas" jawab Ana dengan senyum yang tampak dipaksakan.
"Kamu ga usah khawatirin aku? Aku baik-baik saja kok. Bentar lagi juga sembuh." tanyaku.
"Tadi sewaktu demam kamu tinggi, kamu terus mengigau memanggil Mama. Sebaiknya kamu besok pulang ke Jakarta menemui orang tua dan adik-adik kamu." jawabnya masih dengan isakan tangisnya. Aku tarik napas dan mendesah, tanpa aku sadari air mata menetes ke pipiku, aku menangis.
"Aku takut. Aku takut ajalku tiba sebelum sempat meminta maaf sama mereka, orang tuaku. Aku yakin, mereka pasti punya alasan kenapa melakukan seperti itu kepadaku sewaktu kecil. Mereka tidak bersalah. Ya, besok aku akan pulang ke Jakarta". Aku pun merebahkan diri untuk mengistirahatkan badan agar besok punya cukup tenaga untuk melakukan perjalanan jauh.

Mama, Papa, lewat tulisan ini aku minta maaf atas segala dosa dan khilafku. Aku yakin kalian pasti melakukan yang terbaik buat anak-anak kalian, termasuk aku. Maafkan aku karena telah membenci kalian, dulu. Maafkan aku telah menuduh kalian yang pasti tidak mungkin kalian lakukan. Mama, Papa, aku ingin sekali bersimpuh di kaki kalian dan mencucurkan air mata buat kalian.



Saturday, November 04, 2006

Aku Ingin Bertemu Mama

Seorang pria berdasi tergesa-gesa keluar dari mobil memasuki sebuah toko di pinggiran jalan Gajah Mada. Dia tampak masih muda, berkumis tipis, dan berbadan tegap. Anton, seorang direktur dari salah satu perusahaan ternama di ibukota.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" seorang wanita cantik pelayan toko menyambutnya dengan senyum ramah.
"Oh, saya mau pesan satu buah parcell paket lebaran yang paling bagus Mba dan tolong langsung dikirim langsung ke tempat tujuan, apa bisa?" jawab Anton dengan tegas.
"Tentu saja bisa, Pak. Untuk siapa Bapak akan kirim parcell ini dan kapan kami harus mengirimnya?"
"Paket ini untuk Ibu saya yang ada di Bogor, dan saya mau paket ini sampai tujuan besok pas lebaran. Berapa saya harus bayar?" Anton merogoh sakunya untuk mengambil dompet.
"Bapak cukup membayar paketnya dan juga ongkos kirim. Semuanya 680.000 rupiah dan silahkan Bapak tulis alamatnya dan tandatangan di sini sebagai bukti pembayaran." Jawab pelayan itu sambil menyodorkan selembar kertas dan ballpoint kepada Anton.
"Baik. Ini uangnya dan saya minta paket ini bisa datang tepat waktu."
"Itu suda pasti, Pak! Terimakasih atas kepercayaan Bapak kepada kami."
Anton segera keluar dari toko tersebut dan tanpa sengaja di luar toko dia menabrak seorang gadis kecil yang lusuh dan kumal. Gadis kecil itu menangis karena setangkai bunga mawar yang dibawanya terjatuh dan tanpa sengaja terinjak oleh kaki Anton. Anton segera menghampiri gadis kecil itu dan meminta maaf. Dia berjanji akan membelikan bunga mawar yang lebih untuk gadis kecil itu.
Setelah memberikan bunga mawar pada gadis kecil itu, Anton bertanya, "Untuk siapa kamu akan berikan bunga mawar ini?"
"Aku akan berikan bunga ini pada Mama. Aku sudah lama tidak mengunjunginya, aku ingin ketemu sama Mama." jawab gadis kecil itu masih dengan sisa tangisnya.
"Ayo saya antar ke tempat Mama kamu. Naik saja ke dalam mobil saya."
"Terimakasih, Om." gadis kecil itu tersenyum karena gembira.
Mobil melaju menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh si gadis kecil itu. "Berhenti, di sini saja Om."
"Lho di mana rumah Mama kamu, biar saya antar sampai sana?" dengan heran Anton bertanya karena dia berhenti tidak di suatu perumahan, namun tepat di depan sebuah pemakaman umum.
"Di sini Om, tempat mama saya. Dia sudah meninggal dunia ketika saya masih kecil." Gadis kecil mengajak untuk masuk menuju ke sebuah makam. Dengan air mata bercucuran gadis itu berucap,"Mama, ini Tara. Aku ingin sekali bertemu Mama, Tara ingin merayakan lebaran sama Mama seperti teman-teman Tara. Mama, kapan Tara bisa bertemu Mama?"
Tanpa disadari air mata keluar dari mata Anton, dia langsung teringat pada ibunya di rumah. Selama ini dia terlalu disibukkan dengan pekerjaan dan tidak begitu mempedulikan kerinduan ibunya untuk bisa merayakan hari raya bersama anak-anaknya.
Anton bergegas masuk ke mobil dan meluncur dengan kecepatan tinggi agar bisa dengan segera bertemu dengan ibunya yang ada di Bogor untuk meminta maaf atas segala kekhilafannya. Namun na'as, sebuah truk dengan kecepatan tinggi menabrak mobil Anton dari arah berlawanan dan Anton tewas dengan seketika.
Note: Seorang ibu mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kita ke dunia ini. Tanpa pamrih beliau merawat kita hingga besar. Sudah berbaktikah kita pada ibu kita?