Benarkah Sudah Saling "Memaafkan?"
Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Gema takbir masih berkumandang, sholat Id sudah selesai. Satu sama lain saling bersalaman untuk saling memaafkan (meskipun belum saling kenal). Lalu, pulang ke rumah masing-masing untuk menyantap ketupat. Sesampai di rumah ada beberapa yang melakukan kegiatan sesuai dengan tradisi mereka; anak sembah sujud pada orang tua sambil mencucurkan air mata, beberapa cuma saling bersalaman, sanak saudara berkunjung, saling berpelukan dan bermaafan, dan sebagainya.
Tapi, sudah benarkah yang mereka lakukan? Ataukah cuma sekedar melakukan tradisi sebagai momentum setiap tahunnya? Kenapa cuma di hari raya idul fitri mereka melakukannya? Apakah mereka sudah memaafkan dengan tulus ikhlas? Masih banyak pertanyaan yang ada di benak saya sebagai penulis.
Kalau memang benar saling memaafkan itu bisa diwakili dengan saling bersalaman dan berpelukan, bagaimana dengan dosa para petinggi kita yang sudah menyengsarakan rakyat? Kasihan sekali mereka karena tidak akan bisa dimaafkan dan meminta maaf. Mereka tidak bisa bersalaman dan berpelukan dengan semua rakyat.
Dihari yang fitri seharusnya saling memaafkan, ada orang tua yang tidak menerima kedatangan anaknya karena tidak memberi uang yang banyak dan menganggap sebagai anak yang tidak berbakti. Padahal si anak pulang dari rantau dengan niat tulus ikhlas untuk meminta maaf karena belum bisa memberi apa-apa. Dia pulang dengan ongkos yang telah dia dapatkan dengan susah payah selama 1 tahun kerja sebagai tanda bakti pada orang tuanya.
Ada juga anak yang mengusir orang tuanya sendiri yang datang ke jakarta untuk menjenguknya karena sekian tahun tidak pulang ke rumah dan ingin ketemu sama cucunya. Namun si anak menganggap kedatangan orang tuanya hanya menyusahkan kehidupannya saja.
Ada beberapa orang yang tidak suka berkunjung ke rumah saudaranya. Mereka beranggapan hanya buang ongkos saja. Dengan alasan kemajuan teknologi semua bisa diwakili dengan sms. Tapi, yang terjadi mereka lebih memilih pergi tamasya daripada berkunjung ke rumah sanak famili.
Bagaimana dengan para petinggi kita?
Apakah kita akan memaafkan dosa-dosa mereka yang telah menyalahgunakan wewenang yang mereka miliki? Sepertinya tidak mungkin, apalagi mereka yang bukan dari golongannya dan tidak menguntungkan bagi golongan itu. Negara demokrasi, mereka dipilih oleh rakyat, namun juga dihujat oleh rakyat. Mereka lebih banyak mendapat hujatan daripada dukungan. Memang sangat sulit untuk bisa memaafkan orang yang sudah melakukan kesalahan besar apalagi merugikan kita.
Alangkah indahnya kalau hukum di negeri ini bisa berjalan semestinya, para petinggi tidak menyalahi kepercayaan yang diberikan oleh rakyat, orang-orang tidak meraup keuntungan untuk diri mereka sendiri, dan mengerti akan hak dan kewajiban masing-masing.
Mari saling memaafkan dan memulai semuanya dari awal dengan penuh kesucian hati dan menjaga kepercayaan yang telah menjadi hak dan kewajiban masing-masing.
Gema takbir masih berkumandang, sholat Id sudah selesai. Satu sama lain saling bersalaman untuk saling memaafkan (meskipun belum saling kenal). Lalu, pulang ke rumah masing-masing untuk menyantap ketupat. Sesampai di rumah ada beberapa yang melakukan kegiatan sesuai dengan tradisi mereka; anak sembah sujud pada orang tua sambil mencucurkan air mata, beberapa cuma saling bersalaman, sanak saudara berkunjung, saling berpelukan dan bermaafan, dan sebagainya.
Tapi, sudah benarkah yang mereka lakukan? Ataukah cuma sekedar melakukan tradisi sebagai momentum setiap tahunnya? Kenapa cuma di hari raya idul fitri mereka melakukannya? Apakah mereka sudah memaafkan dengan tulus ikhlas? Masih banyak pertanyaan yang ada di benak saya sebagai penulis.
Kalau memang benar saling memaafkan itu bisa diwakili dengan saling bersalaman dan berpelukan, bagaimana dengan dosa para petinggi kita yang sudah menyengsarakan rakyat? Kasihan sekali mereka karena tidak akan bisa dimaafkan dan meminta maaf. Mereka tidak bisa bersalaman dan berpelukan dengan semua rakyat.
Dihari yang fitri seharusnya saling memaafkan, ada orang tua yang tidak menerima kedatangan anaknya karena tidak memberi uang yang banyak dan menganggap sebagai anak yang tidak berbakti. Padahal si anak pulang dari rantau dengan niat tulus ikhlas untuk meminta maaf karena belum bisa memberi apa-apa. Dia pulang dengan ongkos yang telah dia dapatkan dengan susah payah selama 1 tahun kerja sebagai tanda bakti pada orang tuanya.
Ada juga anak yang mengusir orang tuanya sendiri yang datang ke jakarta untuk menjenguknya karena sekian tahun tidak pulang ke rumah dan ingin ketemu sama cucunya. Namun si anak menganggap kedatangan orang tuanya hanya menyusahkan kehidupannya saja.
Ada beberapa orang yang tidak suka berkunjung ke rumah saudaranya. Mereka beranggapan hanya buang ongkos saja. Dengan alasan kemajuan teknologi semua bisa diwakili dengan sms. Tapi, yang terjadi mereka lebih memilih pergi tamasya daripada berkunjung ke rumah sanak famili.
Bagaimana dengan para petinggi kita?
Apakah kita akan memaafkan dosa-dosa mereka yang telah menyalahgunakan wewenang yang mereka miliki? Sepertinya tidak mungkin, apalagi mereka yang bukan dari golongannya dan tidak menguntungkan bagi golongan itu. Negara demokrasi, mereka dipilih oleh rakyat, namun juga dihujat oleh rakyat. Mereka lebih banyak mendapat hujatan daripada dukungan. Memang sangat sulit untuk bisa memaafkan orang yang sudah melakukan kesalahan besar apalagi merugikan kita.
Alangkah indahnya kalau hukum di negeri ini bisa berjalan semestinya, para petinggi tidak menyalahi kepercayaan yang diberikan oleh rakyat, orang-orang tidak meraup keuntungan untuk diri mereka sendiri, dan mengerti akan hak dan kewajiban masing-masing.
Mari saling memaafkan dan memulai semuanya dari awal dengan penuh kesucian hati dan menjaga kepercayaan yang telah menjadi hak dan kewajiban masing-masing.


